Halloween party ideas 2015

Lagi-lagi membahas Arafah Rianti untuk wangsit usaha hiburan komedi. Lagi pula, dunia hiburan komedi menyerupai sedang menerima IQ yang cukup, untung bukan IQ di bawah rata-rata, apalagi IQ jongkok. Hal ini alasannya dinaungi Stand Up Comedy yang dinilai bisa sebagai “Ustad Lucu” walaupun sering nasehatnya absurd. Jadi, membahas usaha hiburan komedi menyerupai mendapat suguhan spesial dari Stand Up Comedy, walaupun pasti usaha komedi menuntut bayaran buat iuran bulanan.


Memang saya lagi nge-fans sama Arafah. Saya tidak nge-fans sama orangnya tetapi nge-fans sama situasi kepopuleran Arafah. Maklum, saya bisa sebagai tukang berita. Saya tidak melihat artis itu siapa, entah artis junior atau artis anyir ketek, terpenting si artis lagi tenar-tenarnya. Apalagi Arafah yang lumayan rupawan dan imut yang selera saya banget. Di samping nge-fans situasinya juga hingga naksir orangnya, bukan nge-fans orangnya lagi, haha... Ya, saya penaksir sejati Arafah Rianti: tukang nilai dan pencerita dunia Arafah Rianti.

Sebagai bukti bahwa saya yaitu fans situasional dan penaksir sejati Arafah Rianti, saya benar-benar menilai Arafah Rianti untuk membuat dongeng komedi yang khusus membahas Arafah Rianti. Menilai disini yaitu mencari titik wangsit dongeng dari kehidupan Arafah. Hasilnya, bisa baca dongeng komedi Arafah Rianti, klik disini

Follow IG Arafah Rianti @arafahrianti atau klik disini


Sebelumnya saya tidak tertarik menonton Stand Up Comedy. Hal ini alasannya pengaturan kegiatan yang ditampilkan di salah satu stasion televisi terlihat kurang menarik, kurang seru, terlihat kaku, apalagi perjaka semua. Seperti melihat tembang kenangan gitu, tembang kakek-nenek. Padahal, Stand Up Comedy yaitu hiburan komedi yang membutuhkan tampilan menarik, keseruan dan cair. Walaupun tetap, Stand Up Comedy tidak untuk menorak-norakkan kelucuan. Ya, walaupun yang nonton bisa jadi para otak-otak norak, yang biasa lihat kegiatan komedi buat basuh muka... basuh mata maksudnya!

Namun setelah Stand Up Comedy Academy Indosiar alias SUCA, walaupun sedikit menjilat dan mengandung marketing plin-plan, saya sering melihat Stand Up Comedy walaupun tidak melihat para penerima komikanya secara serius. Maklum, para penerima rata-rata yaitu orang yang memiliki senjata di bawah perut. Untung ada pentas kartun komedi Upil Ipul yang bermuka flat walaupun tidak hingga botak, jadi saya konsen lihat SUCA ... konsen lihat Musdalifah-nya.

Setelah muncul Arafah Rianti di SUCA 2 Indosiar, saya lebih sering melihat SUCA walaupun yang dilihat secara serius yaitu Arafah. Jangan mikir saya ini pilih kasih, tidak, tapi pilih sayang. Sekali lagi, saya ini fans situasional dan penaksir Arafah Rianti. Butuh tenaga dan waktu, hingga sering kehabisan kopi buat mempelajari kehidupan Arafah Rianti. Bagaimana jikalau hingga ditambah komika Si Anyun Cadel dan Aci Gambreng? Haduh,,, bisa pusing pala babi. Bisa-bisa aksara “R” ditulisan bisa ilang...

Sejurus dengan SUCA 2 yang dipimpin Arafah, saya ingin membahas dunia usaha yang berkaitan dengan memanfaatkan tema komedi Stand Up Comedy. Namun dalam hal ini yaitu membahas peluang usaha membangun sekolah komedi secara khusus Stand Up Comedy. Ingat! Maksud sekolah bukan sekolah formal, tetapi sekolah non formal. Mengapa dunia usaha sekolah komedi perlu dibahas? Biar otak-otak pelawak itu tidak norak-norak, walaupun kenyataan ngelucu yaitu menorakkan diri, haha... Terpenting terdidik dengan baik saja, biar tidak bermodal tampang lucu.

Baca: Arafah Rianti Dan Peluang Usaha Vidio Stand Up Comedy

Mengapa Perlu Membangun Usaha Sekolah Hiburan Komedi?

Yang terang biar mendapat untung jikalau membuka usaha, secara khusus sekolah komedi. Masak mau menerima kerugian? Namun di samping itu, sekolah komedi diharapkan alasannya beberapa alasan:
  • Berbicara stand up comedy memang susah
  • Menulis dongeng komedi memang susah
  • Menghafal teks sambil mempertahankan emosi memang susah
  • Mengekspresikan anggota badan sesuai situasi dongeng memang susah
  • Melawan tatapan para audiens memang susah
  • Biar mentor yang tidak laku damai mengajari ilmu komedi alasannya ada gaji
  • Komunitas stand up comedy yang berkualitas harus mengeluarkan uang

Setelah mengamati pentas SUCA Indosiar, walaupun agak menjilat biar diliput kamera liliput, ternyata Stand Up Comedy Akademi Indosiar tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga pembelajaran. Kata host Ramzi Bin Irfan Hakim, “Namanya juga akademi... pasti ada pembekalan ilmu”. Arafah Rianti pada sesi audisi, gaya bicaranya masih menyerupai pita kaset kurang minyak, sekarang malah jadi jago bicara. Juga, ia sudah bisa bermain gerakan-gerakan badan sebagai perhiasan dongeng komedi. Penulisan bahan pun terlihat bagus. Bisa dikatakan jauh berbeda ketika tampil di audisi dengan ketika tampil di 16 besar SUCA 2.

Kasus SUCA Indosiar yaitu tumpuan sekolah komedi. Namun tetap, perlu pengembangan pembelajaran melebihi dari SUCA Indosiar. Artinya, skill dari sekolah komedi bisa masuk di beberapa hal, seperti:
  • Pembawa acara
  • Pemain film
  • Tentunya menjadi komika
  • Acara panggung komedi
  • Penulis dunia fiksi komedi
  • Penyanyi komedi
  • Bintang iklan celana kolor
  • Dan sebagainya

Siapa Target Market Yang Tepat Untuk Usaha Sekolah Hiburan Komedi?

Siapa ya? Saya sendiri bingung. Namun pada intinya yaitu semua usaha membutuhkan target market. Target market yaitu yang menjadi tujuan penjualan atau pendaftaran jikalau untuk sekolah atau kursus. Anda bisa cari sendiri di Google Maps, siapa kira-kira yang sempurna sebagai target map. Bila tidak ada jawaban, silahkan cari lagi, alasannya informasi online bukan sebatas di dalam daun kolor.

Namun yang pasti, saya ingin menghitung-hitung perkiraan:
  • Usia pelajar, berlaku hanya di jam di atas 13.00 an
  • Usia mahasiswa reguler, biasanya gak terang waktu.
  • Usia mahasiswa kantoran, ada waktu di hari-hari tertentu tetapi sayang digunakan buat kerja
  • Usia pekerja, sibuk bekerja.

Lah, terus target market usaha sekolah hiburan untuk siapa? Ribet amat. Lihat kursus bahasa Inggris, bisa berjalan di tengah-tengah kesibukan para pelajar dan mahasiswa. Rata-rata buka kursus di jam sehabis pulang sekolah. Ini menunjukan bahwa di jam pulang sekolah bisa dijadikan jadwal sekolah hiburan komedi. Kalau begitu, target marketnya siapa? Target marketnya yaitu orang-orang yang memang membutuhkan.

Bagi orang yang butuh sekolah hiburan komedi, tidak peduli usia. Mau pelajar atau mahasiswa, jikalau berniat ingin memperdalam hiburan komedi, pasti akan mengikutinya. Kakek-nenek pun bisa asalkan masih bisa mendengar, melihat, dan tidak perlu pakai kegiatan “merepotkan” orang sekitar khas usia lanjut.

Apa Hal Penting Bila Peserta Didik Memperdalam Di Sekolah Hiburan Komedi?

“Pentingnya apa gua ikut sekolah elu?” Pertanyaan itu bisa sebagai dasar atau inti dalam membangun usaha hiburan komedi. Bisa disejajarkan dengan pertanyaan, “Pentingnya apa gua ikut kursus bahasa inggris elu?”. Kalau kursus bahasa inggris, terang penting alasannya bisa digunakan untuk banyak sekali hal termasuk berkarir di luar negeri. Lah, jikalau bahasa inggris saja penting, bagaimana bila sekolah hiburan komedi yang didalamnya bercampur bahasa inggris? Lebih penting lagi. Bukankah hiburan komedi tidak melulu menarget pasar lokal? Hiburan komedi untuk pasar luar negeri juga bisa bahkan jauh lebih mudah di masa online menyerupai ini.

Jadi, anda harus bisa menjawab pertanyaan di atas dengan banyak sekali balasan supaya usaha hiburan komedi anda dilirik banyak orang.

Membangun Ruang Pentas Sebagai Rill Praktek Sekolah Hiburan Komedi

Membangun ruang pentas yaitu salah satu balasan dari pertanyaan “Pentingnya apa gua ikut sekolah elu?” Saya membahas hal ini alasannya memang penting dihadirkan dalam sekolah hiburan komedi. Tidak mengharuskan membangun gedung teater atau hal yang membutuhkan biaya besar. Namun cukup ruangan kecil, asalkan masih bisa untuk mengambil nafas di dikala banyak orang yang buang kotoran angin atau nafas.

Dalam hal membangun ruangan pentas, saya terinspirasi dari ruang pentas Stand Up Comedy Raditya Dika. Hanya mengandalkan ruang kecil, berisi kursi-kursi penonton, Raditya Dika berhasil menyuguhkan suatu pentas yang tidak kalah dengan pentas yang ada di televisi. Sederhana namun bisa menjual. Lihat saja jumlah view di vidio di bawah:


Penting dicatat. Bangun ruang pentas hanya untuk pentas Stand Up Comedy. Mengapa hanya berfokus pada ruang pentas untuk stand up comedy? Di samping tidak memakan tempat, tidak memakan waktu, juga supaya penerima didik bisa mengeskplor kemampuannya dengan maksimal. Jangan ada kata “Anak bawang” hanya alasannya menghadirkan hiburan ala film.

Membangun Ruang Penghasilan Sebagai Hasil Rill Praktek Sekolah Hiburan Komedi

Kunci keberhasilan penerima didik mendalami hiburan komedi yaitu pentas hiburan yang diadakan sekolah bisa menerima penghasilan, baik untuk individu penerima didik atau sekolah. Banyak sekali Youtuber meraih penghasilan besar dengan cara mengupload vidio hiburan yang menarik. Nah, cara menyerupai ini bisa diterapkan dalam kegiatan sekolah hiburan komedi. Setiap pentas selalu diupload di Youtube supaya menerima penghasilan. Peserta didik pun dibebaskan membuat kegiatan sendiri hasil pembelajaran di sekolah hiburan komedi.

Pembahasan di atas pun sebagai balasan atas pertanyaan “Pentingnya apa gua ikut sekolah elu?”

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.