
Apakah hingga titik ini, anda sudah paham makna endorse atau endorsement? Gampangnya sih, mampu menyamakan dengan referral yang sama-sama mengajak untuk membeli. Hanya saja, cakupannya yang berbeda. referral cenderung member get member atau marketing verbal ke verbal yang bertujuan mengajak untuk menggunakan produk/jasa. Kalau endorsement atau lebih umum disebut endorse, lebih kepada mengajak banyak orang lewat perantara orang besar lengan berkuasa ibarat artis. Jadi, menggunakan artis yakni salah satu syarat untuk menggunakan teknik endorsement.
Pentingkah menggunakan artis untuk meng-endorse produk kita? Jawabannya adalah, simpel yakni penting. Namun menjawab penting tidak sesederhana berbicara. Penting mengakibatkan artis sebagai endorser alasannya yakni berkaitan dengan kekuatan testimoni.
Banyak pebisnis yang mementingkan atau dianggap penting menghadirkan testimoni dari pelanggan. Padahal, pelanggan bukan siapa-siapa bukan? Artinya bukan orang yang dikenal konsumen lain. Terkadang hanya menampilkan gelar ibarat penulis best seller, pengajar, dan yang lainnya. Tetapi bila banyak pelanggan yang menawarkan testimoni, akan menawarkan kekuatan tersendiri dalam penjulan yang masuk pada hukum psikiologis marketing “ikut-ikutan”. Nah, bila testimoni dari artis berpengaruh, katakanlah Arafah Rianti, (pasar untuk kelas abg dan mahasiswa, ketika artikel ini ditulis) yang sebagai artis yang pernah mencicipi produk, sudah mampu dikatakan memiliki nilai jual yang bagus.
Kalau sekedar menerima testimoni dari artis atau dari orang berpengaruh, semua pebisnis juga melaksanakan itu kan? Mendapatkan testiomoni faktual dari konsumen khususnya artis yang pernah mencicipi produk yakni hal penting. Namun apakah ini disebut endorse? Sekali lagi, prinsip endorse harus menyamakan dengan referral yang arti pentingnya yakni mengajak membeli. Strategi mengajak membeli itulah yang mampu berbeda-beda.
Jadi, apakah endorse dianggap penting? Penting dong. Di samping akan menawarkan testimoni positif, juga akan menawarkan dorongan untuk membeli. Biasanya dorongan untuk membeli dilakukan secara soft selling biar lebih mengena di hati para follower.
Misal saya mencontohkan kasus Arafah Rianti, artis pendatang gres 2016-2017, yang meng-endorse alias mengiklankan akun media umum milik salah satu koki (sory, gambar vidionya sepertinya sudah dihapus). Namun strateginya unik, yakni mengajak para follower arafah untuk berkomentar di akun media umum milik si koki tersebut. Ia menawarkan kesempatan untuk bertanya-tanya untuk arafah dan si koki biar pertanyaan yang diajukkan mampu dijawab dalam sebuah vidio. Ada batasan waktu biar mereka bergegas berkomentar. Dan, bussh, banyak juga komentarnya. Ini artinya, si koki sepertinya berhasil menerapkan seni administrasi endorse yang menitikberatkan mengajak. Namun sayangnya, tidak ada testimoni dan kejelasan mengajak bersifat finansial (mencari keuntungan), mengingat yang ditawarkan sekedar meramaikan suasana.
Apakah tidak problem bila mengabaikan teknik endorsement? Ya tentu tidak menjadi problem dong. Apalagi sekedar menggaet artis, mampu saja gagal dalam penjualan. Teknik endorsement yang memanfaatkan media umum alias sosial media, tidak menjamin para follower-nya membeli. Apalagi bila si artis tergolong wanita cantik, ehem mungkin arafah juga cantik, dan lebih banyak memiliki follower para pria, mana mungkin endorse produk kecantikan mampu berhasil menerima penjualan.
Daripada endorse asal-asalan, sekedar memanfaatkan para follower, lebih baik mengiklankan lewat Facebook atau Google. Hanya biaya 10.000 mampu menggaet ratusan bahkan ribuan pengunjung online. Interaksi pun mampu terjadi alias direspon dengan like dan komentar dalam jumlah yang tidak sedikit. Kalau pakai endorse, walaupun asal-asalan, ketika follower-nya banyak, biaya endorse akan jauh lebih mahal. Misal endorse baju, mampu saja akan menghabiskan minimal 1 baju seharga minimal 100.000. Bayangkan, berapa jangkauan bila diiklankan lewat Facebook atau Google dengan uang 100.000?
Saya akan menganalisis artis Arafah Rianti. Ya, sekedar berguru jadi marketer profesional saja. Mengapa Arafah Rianti? Suka-suka saya dong. Jadi, baiklah ya? Tetapi nanti ya, bukan di pembahasan ini.

Instagram @arafahrianti
Jadi, penting menggunakan teknik endorsement lewat artis dan media sosialnya asal paham strateginya, salah satunya menawarkan kekuatan testimoni dan juga permintaan membeli walaupun dengan soft selling. Bila mau memanfaatkan arafah rianti, misal, perhatikan betul kondisinya dari beberapa hal biar teknik endorsement jauh lebih efektif dari iklan Facebook atau Google.
Posting Komentar